PUISI “tigasisi”

TIGA SISI Untuk dia yang belum berani kusebut namanya, entah sampai kapan
Pagi ini aku bangun
Dengan wajah sejuta ceria
Bukannya cepat mandi tapi memandang diri di cermin
Senyum yang tidak bisa dibandingkan manisnya
Ups…lupa, aku kan belum mandi  
Tralala…trilili Entah berapa lagu keluar dari bibir ini
Ya jelas lagu cinta dong
Suara sumbang, siapa peduli?
I’m happy!Yippi!  
Mandi sudah, segar
Cantik, jelas Tapi eits…pakai baju dong
Agak lama, nggak papa kan?
Beres!  
Hey…hai…halo
Gimana kabar?
Kamu segar sekali hari ini
Hari ini cerah ya?
Duh, pagi memang benar-benar indah saat ini  
Wah, ternyata kelas sudah ramai
Pasang tampang sok cuek tapi tetap ramah
Emang bisa?
Duduk sambil basa-basi sana sini
Eits…kayaknya ada yang belum datang
Cemas tapi mencoba tenang  
Bentar…ada yang datang
Ya ampun, segar banget
Benar-benar vitamin
Jadi semangat deh  
Hari ini lancar
Kesehatan, apalagi
Hati nggak henti-hentinya mengeluarkan bunga
Kepalaku, eh ada kupunya lho  
“Pulang…pulang!”
Bentar dong, masih pingin liat nih
Ups…tiba-tiba dia noleh
Cepat-cepat memalingkan muka
Biasa, sok cuek  
Untung nggak ketahuan
Terik matahari yang menyengat
Nggak kerasa tuh Sepanjang jalan cengengesan sendiri
Gila kali Siapa peduli?  
Ketika malam mengganti hari
Kusapa dia lewat diary
Diary biru, sebiru hatiku
Cie…hari gini Dear diary…bla…bla
Senang sekali 
Duduk malam-malam di pinggir jalan
Sambil memandangi langit dengan ribuan bintang
Sungguh menyenangkan
Sepi, damai
Apalagi ditemani seseorang yang belum berani kusebut namanya, entah sampai kapan

“Bangun…bangun!”
Suara mami seperti meriam
Mengusik tidurku, mimpiku
Ya mami, aku masih pingin mimpi  
Pagi, tidak langsung mandi tapi memandang diri di cerminSenyum, manis
Segar, ceria
Selamat pagi dunia!  
Untuk kamu yang belum berani kusebut namanya, entah sampai kapan
Kenapa sih kamu harus ada di dunia ini?
Kenapa kamu membuatku lupa diri?
Sampai kapanpun
Aku menanti  
(Aku, gadis manis di pojokan)  

Untuk seseorang yang belum berani kusebut namanya, saat ini
Pagi ini aku bangun
Garuk-garuk kepala sambil cengengesan
Menguap kemudian senyum-senyum lagi
Plak! Kupukul kepalaku sendiri
Lho, aku kan belum mandi  
Dengan gontai menuju kamar mandi
Jebar…jebur
Ho…ho…hi…hi
Mak! Lupa bawa handuk nih
Lagi-lagi  
Selesai, akhirnya
“Heh jangan lupa diisi tuh kamar mandi,” teriak emak
Tidak peduli, langsung ngeloyor pergi  
Pakai baju di gantungan lemari Itu lagi, itu lagi
Kusut sana-sini
Siapa peduli? keren kok
Nggak lupa pakai jelly  
Sambar motor kemudian pergi
“Mak, aku berangkat!”
Jalanan ramai sekali
Aktivitas di pagi hari
Cewek-cewek dandan rapi
Cowok-cowok lirik sana sini  
Kelas sudah ramai
Seperti biasa, hampir telat lagi
Tebar senyum sana-sini
Kok nggak ada yang peduli?
Eits, siapa yang di pojok?
Manis tapi cuek sekali  
Hari ini seperti biasa, membosankan sekali
Mungkin jika tidak ada si manis di pojokan
Aku sudah pasti lari  
Pulang, akhirnya
Cepat-cepat berkemas
Tapi kayaknya ada yang memandangi
Begitu menoleh
Kulihat si gadis manis ketawa-ketiwi
Bukan padaku, pada teman-temannya  
Panas sekali matahari
Untung seharian ada si gadis di pojokan
Tidak rugi mencuri pandang sedari pagi
Matahari, siapa peduli?
Aku happy!  
Malam sudah datangTapi tidak kantuk ini Berbaring, merebahkan diri
Lamunan melayang pada gadis di pojokan
Manis, kamu cuek sekali
Andai kamu peduli  
“Bangun!Bangun!”
Suara emak seperti petir di siang hari
Yah emak…berisik sekali, masih ngantuk nih  
Pagi, tidak langsung mandi
Garuk-garuk kepala
Merentangkan tangan, menguap
Kemudian senyum-senyum sendiri
Pagi, selamat datang!  
Untuk kamu yang belum berani kusebut namanya, saat iniKenapa cuek sekali?
Kenapa tidak mau peduli?
Saat ini Aku belum berani  
(Aku jejaka, saat ini)   
Untuk kalian yang belum berani menyebut nama, saat ini atau entah sampai kapan
Ketika pagi datang, aku tersenyum
Melihat kalian berdua bangun sungguh menggelikan
Bukannya cepat-cepat mandi
Eh malah cengar-cengir sendiri  
Begitu mandi Yang satu nggak tau diri
Bikin konser di kamar mandi Lainnya lupa diri
Nggak mau ngisi kamar mandi  
Mematut diri jadi kewajiban tiap pagi
Emang ngefek?
Pilih-pilih baju tapi itu-itu yang dipakai
Sok keren pake jelly
Gel kali  
Berangkat dengan semangat
Seakan nggak takut mati
Tebar senyum sana-sini
Seolah-olah ada yang peduli  
Masuk kelas dengan sok berani
Sedikit basa-basi tapi mata kesana-kemari
Eh satunya nggak tau malu
Senyum-senyum sendiri
Emang ada yang peduli?  
Nggak sadar jam mulai berganti
Gimana nggak?
Dari tadi mencuri-curi
Sok cuek tapi peduli
Nggak lengah memanfaatkan tiap detik
Yang katanya berarti  
Hari berganti cepat sekali
Kalian bersiap-siap pulang
Eh ternyata  masih ada yang ingin menikmati hari
Mencuri pandang sesekali
Begitu ketahuan langsung memalingkan diri
Sok nggak peduli  
Matahari mulai tinggi Kalian pulang setelah memuaskan diriMemuaskan hati dengan siraman rohani
Kayaknya lebih manjur yang ini
Memuaskan mata menikmati karunia illahi  
Lalu malam datang menyelimuti
Kalian tidur setelah mencurahkan hati
Pada diary biru, pada khayalan kalbu
Aku benar-benar malu  
Begitu pagi, dipanggil mami
Eh malah mencaci
Katanya masih pingin mimpi
Dibangunkan pagi
Malah mengatai emak kayak petir di siang hari
Benar-benar nggak tau diri  
Ha..ha…ha…
Kalian berdua lucu sekali
Sama-sama suka tapi memunafikkan diri
Melihat kalian berdua membuatku takut mati
Karena aku pingin tau akhir dari cerita ini  
Untuk kalian berdua yang belum berani menyebut nama, saat ini atau entah sampai kapan
Tolong introspeksi
Tau diri Umur sudah segini
Aku benar-benar malu
Harus jadi saksi dari kebodohan ini  
(Aku, Langit)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s